Cara Penerjemah Resmi Mengatasi Kesulitan

jasa penerjemah resmi

Adakalanya penerjemah membuka daftar sinonim tapi tidak membantu, bahkan daftar itu dibuat oleh kantor jasa penerjemah resmi tersumpah. Kemudian penerjemah membuka kamus kata atau frasa tersebut tidak ada di kamus, atau pilihan-pilihan yang ditawarkan semuanya tampak atau salah, maka penerjemah menelepon atau mengirim pesan pada seorang teman atau kenalan yang mungkin bisa membantu, atau mengirim pertanyaan ke sebuah listserver Internet.

Semuanya tidak bisa menolong, jadi penerjemah menekuni ensiklopedi dan bahan referensi lain. Jika Penerjemah masih juga belum beruntung, giliran klien atau atasan yang penerjemah hubungi. Akhirnya, bila tak ada seorang pun yang tahu, Penerjemah teruskan saja dengan perasaan intuitif penerjemah dan menghasilkan terjemahan secara abduktif, barangkali dengan menyisipkan penerjemah tanya untuk ditindaklanjuti oleh klien atau editor nanti. Saat menerjemahkan puisi, Penerjemah mungkin ingin lompat ke abduksi nyaris seketika itu juga.

Dan perhatikan bahwa tahap berikutnya sesudah abduksi, kembali memutari lingkaran berlawanan arah jarum jam, sekali lagi merupakan panduan penerjemahan bawah sadar. Solusi terhadap masalah khusus ini, apakah muncul secara deduktif, induktif, atau abduktif (atau melalui kombinasi ketiganya), bersatu menjadi repertoire kebiasaan Penerjemah, tempat solusi ini digunakan kembali untuk terjemahan terjemahan mendatang. Barangkali solusi ini diuji secara induktif, digeneralisasikan menjadi prinsip deduktif, bahkan dijadikan dasar pendekatan teoretis baru terhadap penerjemahan.

Kebanyakan teori-teori penerjemahan beranggapan bahwa penerjemah bekerja secara sadar, analitis, waspada, tetapi model yang disajikan pada bab ini beranggapan penerjemah hanya jarang-jarang bekerja secara sadar, karena bagian terbesarnya diserahkan pada proses kebiasaan atau bawah sadar.

Renungkanlah bentuk dan asal-usul perbedaan opini ini. Apakah teori tradisional merupakan pengidealan proses kesadaran si pembuat teori sendiri? Apakah cara kerja Penerjemah selama ini merupakan pengidealan dari kebiasaan buruk penerjemah di dunia nyata?

1. Kebiasaan-kebiasaan apa yang biasa Penerjemah kerjakan dalam kehidupan sehari-hari? Dalam hal apa kebiasaan-kebiasaan itu menjadi kekurangan, keterbatasan yang harus dihentikan atau dibuang? Perkirakan berapa menit sehari Penerjemah menyadari secara aktif apa yang sedang berlangsung di sekeliling Penerjemah, apa yang sedang Penerjemah lakukan. Tidak banyak ilmuwan perilaku manusia yang menyatakan, kebiasaanlah yang menjalankan sebagian besar hidup kita. Bagaimana dengan Penerjemah?

2. Penemuan baru apa yang sudah Penerjemah dapatkan da lam hidup Penerjemah yang sejak saat itu menjadi “kebiasaan yang sudah melekat (second nature)”, bagian dari repertoire kebiasaan Penerjemah? Ingatlah proses ketika gagasan atau prosedur yang baru dan menantang menjadi usang, gampang, dan akrab misalnya, proses perubahan suatu kebiasaan, mengganti kebiasaan buruk dengan kebiasaan yang baik. Kenanglah proses itu dalam imajinasi Penerjemah. Catatlah tahap atau momen utama dalam perubahan itu.

3. Bidang masalah khusus apa yang ada dalam kombinasi bahasa yang Penerjemah kuasai? Kata atau frasa apa yang membunyikan bel alarm saat Penerjemah menjumpainya pada teks?

Menerjemah bukan soal menggabungkan teori yang ada dalam kaidah ilmu bahasa saja, namun lebih kepada bagaimana seorang penerjemah memberikan interpretasi teks berdasarkan apa yang ada dalam benak pikiran penerjemah. Menuangkan gagasan memberikan arti atau padanan kata, agar dokumen dapat dibaca oleh orang lain dengan bahasa lain.

Jika penerjemah belum selesai dengan masalah teknis penerjemah lalu kapan ia akan bisa mendirikan jawatan sendiri untuk membuka layanan jasa penerjemah resmi? Jalani dulu bagian mana yang ingin penerjemah pilih, aktualisasi diri dalam hal terjemahan, atau mengejar untuk cepat-cepat mendirikan perusahaan, sedang pengetahuan management yang dimiliki juga belum mapan untuk mengelola sendiri.